Indolinear.com | 20 Januari 2016

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Indolinear.com, Tangsel – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai wadah lintas agama harus bisa optimal berperan ditengah masyarakat. Makanya pihak FKUB meminta kepada pemerintah Kota Tangsel untuk serius mendanai organisasi tersebut.

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Muqsith Ghozali mendesak agar Pemkot Tangsel serius potensikan FKUB. Tangsel dinilai memiliki banyak potensi, salah satunya kemajemukan agama dan etnis dengan demikian peran FKUB sebagai pemersatu dapat berjalan.

“Peran FKUB penting karena Tangsel sebagai basis radikalisme dan menjadi lumbung ekstrimisme gerakan,” kata Muqsith dalam Focus Group Discussion (FGD) di Fifo Cafe, Ciputat Timur, Tangsel pada Selasa, 19 Januari 2016.

FKUB tidak boleh diam saja, juga para tokoh agama dan tokoh masyarakat. Jika mereka pada diam, tidak menimbulkan kekuatan untuk kebersamaan, potensi besar ancaman radikalimse dan ektrimisme gerakan akan kembali muncul. Tentu itu amat mengancam kenyamanan masyarakat.

“Jika di Tangsel tokoh yangg moderat tidak bertindak maka kelompok radikal bisa bangkit kembali,” pesannya.

Namun untuk melangkah kearah sana, FKUB harus didukung secara serius oleh Pemkot Tangsel melalui pendanaan. Secara jelas FKUB hingga kini belum ada gaungnya di masyarakat. Pemkot jangan melepaskan FKUB berjalan sendiri tapi harus kerjasama dengan baik.

“Maka FKUB tidak boleh bergerak secara eklusif. Harus berkerja bersama bukan orang perorang. Elemen sayarakat, mahasiswa, organisasi keagamaan dan dukungan pemerintah,” sambungnya.

Sementara itu menurut Ulil Abshar Abdalla tokoh cendikian muda Islam ketika itu menjadi narasumber menegaskan FKUB secara merata seluruh Indonesia tidak didanai negara dengan maksimal. Kondisi ini menistakan nilai kerukunan itu dengan harga yang sangat murah, padahal harus dibayar dengan mahal.

“Kalau pemerintah serius menjadi kerukunan umat beragama terjalin dengan baik maka harus dilihat dari penganggaran. Yang ada saat ini amat minim dan bahkan mungkin lebih besar jumlahnya dengan karangtaruna,” papar Ulil.

Direktur International Centre for Islam and Pluralism (ICIP) Syafiq Hasyim selaku penggagas kegaitan mengatakan FGD ini dalam rangka tindak lanjut tahun sebelumnya. Setahun yang lalu ICIP juga mengadakan hal serupa yakni melakukan diskusi guna memperkuat keberadaan FKUB.

“Kelanjutan dari kegiatan yang dulu yaitu memperkuat posisi FKUB. Kami lakukan ditiga daerah yakni Tangsel, Bekasi dan Bogor. Alasan diperkuat karena memiliki peran yang fital soal umat beragama,” kata Syafiq.

Lebih lanjut FKUB di Tangsel harusnya memiliki posisi yang harus dikedepankan oleh pemerintah. Sebab krisis soal agama yang kerap dibawa keranah apapun dapat menjadikan krisis ditengah masyarakat khususnya di Tangsel. Maka dari itulah perlu diperkuat keberadaan FKUB dalam menjawab tantangan krisis keberagaaman kedepan.

“FKUB di Tangsel harusnya memiliki posisi yang istimewa kendati keadaan aman tapi suatu saat jika tidak diantisipasi, krisis keagamaan dan mengancam kemajemukan akan terjadi,” tambahnya. (sophie)