Jakarta, ICRP – 71 tahun Indonesia merdeka. Terbebas dari jeratan penjajahan kolonialisme dan imperialisme. Sayangnya, kemerdekaan itu hanya dinikmati oleh sebagian orang. Masih banyak saudara kita yang merasa belum sepenuhnya merdeka. Di antaranya adalah jemaat Ahmadiyah yang berada di Transito, kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Sudah 10 tahun jemaah Ahmadiyah di Transito ini hidup di pengungsian. Mereka tidak tahu kepastian kapan mereka akan kembali ke rumah mereka dan hidup merdeka seperti sedia kala.

“Kalau menurut kami, merdeka ya sudah merdeka. Tetapi belum sepenuhnya kami merdeka,” kata Syahidin, salah seorang warga Ahmadiyah, seperti dilansir Kompas.Com Senin (15/8/2016).

Syahidin mengatakan, sebagai warga negara Indonesia semestinya jemaah Ahmadiyah juga mendapat perlakuan sama dengan warga negara Indonesia lainnya.

Syahidin berharap dia dan Jemaah lainnya bisa menjadi warga negara yang benar-benar merdeka. Bisa memiliki tempat tinggal yang nyaman dan aman. Namun, saat ini menurutnya, sudah ada sedikit perbaikan. Pemerintah sedikit demi sedikit sudah mulai terbuka dan memberikan pelayanan seperti pemberian KTP. Anak-anak pun sudah mendapatkan Kartu Indonesia Pintar.

Hingga saat ini ada sekitar 118 jiwa atau 33 Kepala Keluarga (KK) yang tinggal di asrama Transito. 40 orang diantaranya merupakan anak-anak yang sebagian lahir saat berada di pengungsian Transito.

Warga Ahmadiyah di NTB terpaksa tinggal asrama Transito, setelah terusir dari kampung halaman mereka sejak tahun 2006 silam. Meski demikian, mereka tetap merayakan HUT ke 71 RI dengan penuh suka cita.

Gedung Transito yang sudah mulai rusak dihias dengan gapura, bendera, umbul-umbul dan pernak pernik merah putih. Berbagai perlombaan pun digelar untuk memeriahkan hari kemerdekaan RI ke 71.

Seperti lomba balap karung anak-anak dan lomba balap kelereng dalam sendok yang dilaksanakan di halaman Transito, Selasa (16/8/2016) sore.

Source : http://icrp-online.org