Selasa, 14 Juni 2016, 08:34 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Dalai Lama mengatakan, pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi memiliki tanggung jawab moral untuk meredakan ketegangan antara mayoritas Buddha dan minoritas Muslim Rohingya di Myanmar. Pemimpin spiritual Tibet itu mengatakan telah menekankan masalah ini dalam pertemuannya dengan Suu Kyi April lalu.

"Dia sudah memiliki Nobel Perdamaian, sebuah Nobel Laureate, sehingga secara moral ia harus melakukan upaya untuk mengurnagi ketegangan antara komunitas Buddha dan komunitas Muslim," katanya kepada Reuters dalam sebuah wawancara di Washington, Senin (13/6).

Menurut Dalai Lama, Suu Kyi harus berbicara lebih terbuka terkait masalah ini. Kekerasan antara mayoritas Buddha dan minoritas Muslim telah membayangi reformasi demokrasi di Myanmar. Kelompok-kelompok HAM telah mengkritik tajam keengganan Suu Kyi berbicara mengenai penderitaan Rohingya.

Dalai Lama mengatakan, Suu Kyi telah menanggapi seruannya dan mengatakan bahwa situasinya benar-benar rumit. "Jadi saya tidak tahu," kata Dalai Lama.

Ada permusuhan luas terhadap Muslim Rohingya di negara mayoritas Buddha tersebut. Termasuk di antaranya berasal dari dalam partai Suu Kyi dan pendukungnya.

Sejauh ini, lebih dari 100 orang telah tewas dalam kekerasan di negara bagian Rakhine pada 2012. Sekitar 125 ribu Muslim Rohingya hidup tanpa kewarganegaraan. Mereka tinggal di kamp-kamp dan dibatasi pergerakannya. Ribuan lainnya telah melarikan diri ke negara tetangga. 

Dalai Lama mengatakan, beberapa biksu di Myanmar tampaknya memiliki semacam sikap negatif terhadap Muslim. Menurutnya, umat Buddha yang memendam pikiran seperti itu harus ingat wajah Buddha. "Jika Buddha ada, ia pasti akan melindungi saudara dan saudari Muslim," katanya.

Pemerintah Myanmar yang baru diumumkan akhir bulan lalu, mengatakan akan memimpin upaya baru untuk membawa perdamaian dan pembangunan untuk negara bagian Rakhine. Tapi pengumuman itu tidak memberikan rincian tentang bagaimana mengatasi banyak masalah di negara bagian itu.

Namun Suu Kyi dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikay John Kerry bulan lalu mengatakan, bahwa negaranya membutuhkan "cukup ruang" untuk menangani masalah Rohingya. Ia juga memperingatkan terhadap penggunaan "istilah emotif Rohingya" yang menurutnya membuat keadaan jadi lebih sulit.

Sumber : Reuters