Rabu 12 Aug 2015, 11:46 WIB

Bahaya Orang Gila Ngamuk

Belajar dari Surabaya, Seperti ini Menangani Orang Gila Lebih Manusiawi
Triono Wahyu Sudibyo - detikNews

0 SHARES

0
0
0
0

Belajar dari Surabaya, Seperti ini Menangani Orang Gila Lebih Manusiawi Liponsos Keputih (Foto: Budi Sugiharto/dok detikcom)

0
0
0
0

Jakarta - Kota Surabaya relatif bersih dari orang gila. Bukan karena tak ada orang gila, tapi orang dengan gangguan jiwa ditangani dengan baik. Mereka dirazia dan ditempatkan di panti khusus. Upaya kecil untuk mencegah efek lebih besar: orang gila menelan korban seperti di Demak dan Kebumen, Jawa Tengah. (Baca: Korban Berjatuhan, Apa yang Harus Dilakukan ke Orang Gila yang Ngamukan?)
Surabaya memiliki 5 Uni Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Lingkungan Pondok Sosial (Liponsos). Di sana, gelandangan, pengemis, anak jalanan, orang-orang yang dibuang atau dikucilkan keluarga, hingga orang gila, dirawat Pemkot. Orang gila ditempatkan khusus di Liponsos Keputih, Jalan Keputih Tegal, Surabaya. Liponsos ini mempunyai kapasitas 600 orang, tapi saat ini over load.
Berdasarkan data pertengahan tahun 2015 ini, Liponsos Keputih dihuni 1.403 orang. Mereka terdiri dari 179 gelandangan dan pengemis, gangguan psikotik (gila) 1.221, dan anak jalanan 3 orang.
"Penghuni psikotik memiliki keluarga, tapi sama keluarganya dititipkan di sini. Karena ada yang dari keluarga tidak mampu, ada yang takut, dan khawatir mengganggu orang lain dan tetangganya," ujar Kepala UPTD Liponsos Keputih, Erni Lutfia, kepada detikcom, Kamis (25/6/2015) lalu.
Untuk mengurangi kepadatan penghuni, sebagian penghuni dititipkan ke RSJ Menur dan Lawang. Jika kondisi mental sudah penghuni sudah baik, maka mereka dipulangkan ke keluarganya. Sebagian di antaranya berasal dari luar Kota Surabaya. Jika masih sakit dan suka kumat, maka penghuni diberi pelayanan optimal seperti makanan 4 sehat 5 sempurna sebanyak 3 kali sehari dan hunian sementara.
Demi menjaga kota bersih dari gelandangan, di era Wali Kota Tri Rismaharini atau Risma, Satpol PP Surabaya rajin merazia jalanan dan sudut kota. Sampai-sampai Pemkot membentuk tim khusus bernama Cobra. Tim ini bergaya bak pengemis dan anak jalanan dan bertugas mengintai pergerakan gelandangan. Mereka melaporkan keberadaan gelandangan ke bagian razia, selanjutnya ikut mengambil 'target' di titik tertentu.
Saking seriusnya membersihkan kota dari pengemis, anak jalanan, hingga orang gila, Liponsos Surabaya kelebihan kapasitas. Namun berkat konsistensi, semua bisa berjalan. Hasilnya, Surabaya relatif bersih dari gelandangan dan orang gila. Bagaimana dengan daerah lain?

(try/nrl)

Ikuti informasi penting, menarik dan dekat dengan kita sepanjang hari, di program "Reportase Sore" TRANS TV, Senin sampai Jumat mulai pukul 14.30 - 15.00 WIB