Hallotangsel.com, Ciputat – Sekretaris Forum Komunikasi Ummat Beragama (FKUB) Tangerang Selatan Fachruddin Juhri mengatakan, potensi konflik antarumat beragama sewaktu-waktu bisa bergejolak di Tangsel. Karena itu, semua tokoh lintas agama bersama-sama harus mampu menjaga Tangsel agar tetap damai dan kondisif.

Untuk itu dia berharap, FKUB di Tangsel kedepan harus memahami tugas dan fungsinya agar masyarakat semakin mengerti. Bahwa membenahi legalitas formal Rumah Ibadah juga harus mrmpunya regulasi yang jelas seperti, status tanah, ijin mendirikan bangunan (IMB) dan yang terpenting untuk mendirikan rumah ibadah itu harus melalui rekomendasi FKUB.

“FKUB sendiri ini kan lembaga sosial kemasyarakatan yg termasuk plat merah, artinya ada di seluruh kabupaten kota dan provinsi di Indonesia. Tentu legalitas nya di akui, dan untuk FKUB di Tangsel sendiri berdiri dari tahun 2009 ini punya struktur jelas juga,” ungkapnya saat diskusi dengan tema “Penguatan Kapasitas Kebebasan Beragama di Ruang Publik” di Tangerang Selatan, seperti dikutip Halloapakabar.com, Kamis (28/06/2016)

Menanggapi hal itu, Dosen UIN Jakarta Dr. Media Zainul Bahri mengatakan, bahwa masalah yang sering menghambat kebebasan beragama adalah tentang konstruksi pemahaman beragamaseseorang, yaitu bagaimana seseorang terjebak dalam teks dan tidak melihat Konteks. Sehingga keberagamaan hanya di maknai sebagai sesuatu yang normatif dan sifatnya doktrinal.

“Padahal kita harus memahami bahwa perkembangan intelektual Islam adalah perbedaan. Salah satu contoh saat ini kita melihat ribuan kitab tafsir, menjadi bukti bahwa perbedaan menjadi sesuatu yang lumrah dalam perkembangan intelektual islam. Dan kita pun harus mengukur nilai dan ajaran agama agama lain tentu dengan standar agama mereka bukan dengan standar agama kita,” jelasnya.

Terkait persoalan Ummat Beragama Dosen UIN lainnya Chaeder Bamualim juga menilai, bahwa pemetaan peta konflik juga penting. Karena tidak hanya melihat bahwa di Tangsel saat ini aman dan tidak ada masalah, melainkan selama masih ada perkembangan dan pergeseran sosial. Maka potensi potensi konflik itu pasti ada.

Sefangkan Kepala Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Tangsel, Salman Faris mengatakan, Tangsel termasuk wilayah dengan kondisifitas cukup baik. Namun persoalan kecil bisa saja meletup dan menjadi besar serta menimbulkan persoalan di tengah-tengah masyarakat.

Salman juga mengatakan keberadaan Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) dan Forum Pemuda Lintas Agama Kota Tangsel (FPLA) harus di garda paling depan dalam mengeratkan antarumat agama. Untuk itu, pihaknya sangat mendorong para pemuda agar menyuarakan kebersamaan dalam beragama serta meyakini kebebasan masing-masing dan tidak saling menyalahkan satu dengan yang lain.

“Pemuda harus menjadi generasi yang mampu berjuang dalam keragaman agama. Karena dalam keragaman agama tidak boleh saling menyalahkan dengan kelompok lain sesuai dengan keyakinan,”serunya.

Dia berpendapat, pada umumnya konflik ditengah masyarakat dipicu soal-soal agama, baik agama yang berbeda maupun agama yang sama. Mereka mudah terpancing dan gampang diadu domba. “Ketidak harmonisan di masyarakat itu, karena warga mudah dihasut dan minimnya kesabaran. Ini menjadi persoalan penting,” jelasnya.

Diakhir diskusi tamu undangan di dilibatkan untuk mengisi kuesioner pertanyaan pertanyaan terkait dengan pengetahuan seputar FKUB dan dihadiri oleh perwakilan agama agama, ormas PDM Muhammadiyah, PC NU Tangsel, MUI Tangsel, PC. IMM Tangsel, PELITA , Kesbangpol Tangsel, dan yang lainnya. (ard/hlt)